Senin, 23 Oktober 2017

Menyeduh Kopi



Menikah itu seperti menyeduh kopi. Engkau harus mengerti takarannya masing-masing. Berapa takaran kopi, berapa takaran air. Perpaduan yang pas akan menghasilkan cita rasa berselera tinggi.

Menikah itu adalah bab menakar secara tepat, seberapa besar percaya, dan seberapa besar cemburu. Seberapa banyak mengikat, dan seberapa banyak memberi kebebasan.

Jika percaya berlebihan, engkau kehilangan penjagaan terhadap pasangan. Jika cemburu berlebihan, engkau mudah depresi. Jika terlalu kuat mengikat, pasanganmu pasti tidak nyaman. Jika terlalu bebas, engkau kehilangan kendali.

Menikah itu serupa menyeduh kopi. Engkau perlu filter yang tepat, suhu yang tepat, alat yang tepat untuk menghasilkan cita rasa kopi berkualitas.Menikah itu memerlukan filter untuk menyaring mana benar mana salah, mana baik mana buruk, mana patut mana tidak patut.

Menikah itu memerlukan suhu yang tepat untuk hadirnya cinta yang indah. Jika terlalu panas, suasana rumah tangga akan selalu berada dalam ketegangan. Jika terlalu dingin, suasana keluarga tidak akan ditemukan keindahannya.

Menikah itu serupa menyeduh kopi. Engkau harus pelan-pelan dan berhati-hati saat menuangkan airnya. Pun engkau harus pelan-pelan saat menyeruputnya. Jangan habiskan secangkir kopi dalam sekali reguk.

Nikmati kemesraan bersama pasangan, pelan-pelan. Seteguk demi seteguk. Nikmati tiap seruputan cintanya. Jangan tergesa-gesa.

Lihatlah, dalam tingkat kepahitan dan level keasaman tertentu, secangkir kopi menjadi sangat menantang untuk dinikmati.

Demikianlah kepahitan dan keasaman hidup berumah tangga, selalu indah untuk dirayakan bersama pasangan tercinta.

-- Nasihat Pernikahan Cahyadi Takariawan

Jumat, 14 Juli 2017

Just Two Months

Hari ini tepat dua bulan usia pernikahan kami. Kalau orang-orang bilang, masih seumur jagung, belum merasakan asam-manisnya kehidupan. Tapi bagi saya, sudah berjuta rasanya! Hahaha. Ada kebahagiaan luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, ada perasaan beruntung yang sangat, ada perasaan syukur yang tidak tau lagi harus diucapkan seperti apa, ada perasaan terkejut membersamai 'orang baru' dalam hidup saya, ada perasaan mencintai dan dicintai yang begitu istimewa dan mendebarkan, ada perasaan bahwa saya telah menjadi wanita seutuhnya dan wanita paling bahagia, ada perasaan sedih dan hampa yang mendalam saat ditinggal jauh olehnya, juga rasa rindu yang kadang menyakitkan sekaligus membahagiakan.


Terima kasih suamiku, atas cinta yang kau terjemahkan dalam kebaikan kata dan lakumu padaku. Aku selalu berharap, semoga Allah menjadikanku istri sholehah, yang selalu cantik dan menyenangkan dimatamu, yang akan selalu taat padamu, yang tidak membuatmu lelah dan bosan tetapi selalu menjadi tempat penawar lelah dan sedih bagimu, dan bisa menghidupkan rumah kita kelak menjadi tempat berkumpulnya para penghuni surga. Juga, semoga Allah semakin menjadikanmu suami yang sholih, dan kita menjadi orangtua yang berakhlak mulia, agar kelak bisa mengasuh dan mendidik anak-anak kita dengan bijak. Semoga Allah selalu mengampuni dosa-dosa dan memberkahi pernikahan kita. 

Semoga Allah selalu berkahi dengan cinta,




Hati Perindu Surga

Selasa, 04 Juli 2017

Your Five Love Language

Sekarang ini, saya sedang membaca sebuah buku karya Cahyadi Takariawan, sudah 2 karya beliau yang saya baca, dan salah satunya menjadi buku favorit saya. Kalau yang sekarang ini topiknya tentang bagaimana menjadi pasangan yang hebat. Ada salah satu chapternya yang bikin saya terharu, bahagia sekali. Judulnya "cara mengekspresikan cinta". Pak Cahyadi menyadur "The Five Love Language" karya Dr. Gary Chapman. Dia mengatakan setiap orang memiliki preferensi masing-masing untuk merasa dicintai, begitu pula untuk mengekspresikan cinta, setiap orang memiliki caranya masing-masing. Ada lima: 1) Hadiah, 2) Waktu yang berkualitas, 3) Kata-kata afirmasi, 4) Perilaku membantu, 5) Sentuhan fisik.  perfectly, he has all of them, 5/5.


Satu
Suatu kali ada yang bertanya apa alasan saya mau menikah muda, terlebih lagi ditengah-tengah masa studi (koas), saya jawab saja begini, “alasannya simpel, aku emang punya keinginan nikah muda, dan pendidikan formal bukan prioritas nomor satu buat aku.” Alhamdulillah, setelah orangtua membiayai semua uang sekolah, kuliah, dan biaya hidup selama 22 tahun, saya diserahkan pada seorang lelaki asing yang sekarang menjadi suami saya. Suami saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukan orangtua untuk saya, dan sama sekali tidak pernah terpikir untuk menghentikan studi yang sedang saya jalankan, malah dia memutuskan untuk pindah dan menetap disini sampai saya benar-benar menyelesaikan studi. Sekarang diapun yang mengambil peran sebagai penyumbang nafkah pertama untuk saya, mulai dari uang sewa kos, uang kuliah sebagai mahasiswa profesi nanti, uang bulanan, dan semua keperluan saya. Bahkan sering sekali bertanya, ‘Do you wanna buy any skincare honey? I will buy you facial mask, okay? Is there anything you want now? Please check picture that I’ve sent you, which one do you like?’ (saat itu di mengirimkan saya gambar-gambar jam tangan cantik). Padahal rasa-rasanya uang tabungannya sudah hampir habis untuk persiapan nikah dan honeymoon kemarin, tapi dia selalu mengusahakan agar saya senang, salah satunya melalui hadiah. Sekarang saya harus berhati-hati dalam menyatakan keinginan saya, karena apapun keinginan saya, dia merasa harus mewujudkannya segera. Alhamdulillah, rasanya gak bisa dan gak boleh berhenti bersyukur dan berdoa sama Allah karena nikmatNya luar biasa banget buat saya.

Dua, tiga
Selain hadiah, dia selalu menunjukkan cintanya dengan meluangkan sebagian besar waktunya untuk saya, dia selalu menelpon setelah dia selesai dari urusannya, kebetulan bulan ramadhan ini (bulan Juni) dia hanya dapat jatah 2-4 hari kerja, selain itu hanya ikut kursus menyetir truk, dan mengurus dokumen-dokumen. Setiap hari rata-rata kami menelpon via line selama 12 jam. Pagi hari sebelum saya berangkat koas, saat saya istirahat, saat saya pulang koas, setelah isya sampai tertidur. Kadang kami hanya melakukan kegiatan masing-masing tanpa ada dialog yang jelas (walaupun tiap harinya ada ‘quality time’ untuk mengobrol hal penting yang kami prioritaskan, biasanya menjelang tidur), karena telepon ini salah satu sarana untuk kami merasa berada di tempat yang sama. Kadang dia tidak mau menutup telfon walaupun saya berbincang dengan teman saya, saat saya shalat, makan dan lain-lain. Saya pun begitu, walaupun dia mengerjakan dokumen-dokumen, mencuci piring, shalat dll, kami tetap terhubung di telfon. Dia juga termasuk laki-laki romantis yang kata-katanya sering kali membuat meleleh. Ketika saya merasa rindu sekali dengannya dan mengatakan, “honey i miss you, you are the most important thing in my life”, and he said, “miss you too honey, you're more than that, you are the only one that i care,” >///<  Atau, ketika dia sedang makan malam dengan temannya dan saya bilang, “no need to go home soon, enjoy your time honey.” Dan dia balas dengan emoticon super menggemaskan dan mengatakan “but I miss you :’(” OMG! I never expect so much to get this cute and romantic man! J Saya selalu suka dengan gombalannya, karena jarang ada janji-janji yang ikut diselipkan atau basa-basi yang memang basi. Di pagi hari ketika kami sempat menelpon, dia sering mengatakan “hello my cutie princess” atau “selamat pagi istriku” ataupun “hello my beautiful janan”. 

Empat
Cerita lain, ketika kali pertama kami menginap bersama, dia membawakan saya minyak rambut. Tidak tanggung-tanggung  harganya, bisa dibilang cukup mahal dan bagus. Dia ingin memakaikannya untuk saya, tentu saja saat itu saya menyetujuinya dengan perasaan berdebar. Tak disangka caranya mengoleskan minyak tersebut sangatlah lembut dan hati-hati. Sungguh perasaan yang tak dapat dilupakan, antara malu, merasa dicintai dan heran ‘bagaimana bisa dia melakukannya dengan baik dan lembut, disaat sayapun tak pernah memperlakukan rambut saya dengan sebaik itu?’. Tak hanya itu, disaat kami berdua sedang lelah sepulang dari perjalanan, di kasur dia mulai memijat badan saya, hingga saya tertidur. Caranya memijat sungguh sesuai, pas, tidak sakit dan membuat saya begitu nyaman. Esok paginya saya merasa sangat bersalah karena meninggalkan dia tidur lebih dulu dan saya sebagai 'istri' yang seharusnya memijitnya. Di waktu lain, di malam sebelum kami akan pulang kembali ke Indonesia, kami sama-sama lelah saat itu, saya bilang, kita harus tidur, kita bereskan semuanya besok pagi. Lalu dia mengatakan “honey, please sleep first okay? You must be so tired, i will do packing, and i will do it for you too” Saat dia mengatakan hal itu, saya langsung tersentak, akhirnya saya tidak jadi tidur dan mulai packing barang-barang saya dengan cepat hingga selesai. Ketika dia masih berkutat dengan kopernya, saya jatuh tertidur. Esok paginya saat saya bangun dan kami shalat subuh bersama, dia mengatakan, “can i sleep a little bit more?” “yes of course, but we have to be ready soon honey,” dan dia malah mulai bercerita, tentang apa yang dilihat dan didengarnya tadi malam, dia bilang saat saya tertidur, dia mendengar suara aneh, ternyata suara tersebut berasal dari gertakan gigi-gigi saya, juga ketika saya bernapas begitu kerasnya, ataupun ketika ada cairan keluar dari mulut saya dan saya lap sendiri. Ketika itu saya sangat malu tapi merasa heran juga, saya bertanya padanya
“How can you know all those things?”
“Because I watched you all night.”
“Huh?! It means you don’t sleep all night?”
“I sleep honey, but just a half hour before you woke me up to pray hehe.”
“Honey :" Now you really know about me,”
“Yeah, and I love you so much.”

Lima
Ketika kami hanya berdua dan saya mulai bersikap manja padanya, memeluknya, bersandar padanya, dia menyambutnya dengan hangat. Bahkan seringkali waktu terasa berjalan begitu cepat ketika kami hanya berdua. Juga tiap kali kami kembali ke kamar setelah berpergian, dia pasti langsung memberikan kecupan hangat pada saya. Pelukannya pun sangat ajaib, terlebih saat saya sedang emosional, ketika dia memeluk saya, tangis saya langsung pecah, dan rasanya nyaman sekali mencurahkan isi hati saya hanya dengan menangis di pelukannya (huhu  jadi makin kangen). Saya selalu menikmati momen-momen itu, bahkan disaat kami sedang berjalan-jalan keluar bersama, tanpa sadar saya mengatakan padanya, “Honey I miss you,” dia menjawab sambil tersenyum “but I’m here with you,” lalu saya membalas, “I mean I miss the moment when there’s no other people, only us, two.” Ada banyak hal lain yang tidak bisa saya ceritakan disini, intinya saya merasa dia memperlakukan saya dengan sangat baik, sampai saya merasa begitu bahagia dengannya.

Hope Allah always bless us,




Hati Perindu Surga 

Senin, 12 Juni 2017

Make it exciting!

Don't expect life to be exciting. 
Make it exciting!
- 88lovelife

Bismillahirrahmaanirrahim.

Yes, make it exciting! 
make it exciting with du'aa!
Minta sama penulis skenario hidup kita! Berdoa! Yang banyak! Yang penuh harap! Yang didahului rasa syukur! yang beralasan! yang penuh kepasrahan!

Doa adalah senjatanya orang muslim, tapi tiap senjata punya teknik pakainya kan? tulisan ini merupakan pengalaman saya pribadi tentang bagaimana saya berdoa, mungkin sedikit banyak bisa diambil hikmahnya, tapi jika ada kesalahan, mohon diingatkan dan dikoreksi ya :)

...

Hiduplah bersama harapan-harapan dan doa-doa, karena itu yang akan menghidupkan hidupmu,
membuat hatimu tenang dan membuat dirimu bahagia.

...

1.
Sedari kecil, kepercayaan saya terhadap doa sangat kuat, ibu saya yang bilang begitu, setiap kali saya punya keinginan, langsung saya berdoa sungguh-sungguh, walaupun nggak semua doanya baik-baik (hehe :p) contohnya saat saya bertengkar dengan kakak saya, saya langsung berdoa "Yaa Allah berikan balasan yang setimpal untuk kakak yaa Allah!"ataupun setiap listrik mati (dulu saya tinggal di daerah perkampungan, jadi sering sekali mati lampu), saya pasti langsung cepat-cepat beres-beres, bertingkah baik, menghemat air, segera sholat ketika terdengar adzan, dan sujud setelah saya melakukan hal-hal baik tersebut agar bisa berdoa minta segera dinyalakan listriknya (waktu dulu, listrik sangat penting bagi kami yang tidak pakai PDAM dan tidak punya tempat cadangan air yang memadai, kalau listrik mati, air pun mati, saya paling takut kalau air habis), ataupun keinginan-keinginan kecil seperti "yaa Allah jadikan aku cantik ketika besar nanti" (dalam hati: bisa nggak yaa.. hm... agak nggak mungkin sih kalau wajah dan warna kulit berubah, tp apa salahnya minta sama Allah, mungkin Allah ada cara lain).

ketika saya ingat-ingat kembali masa itu, jelas sekali dalam memori saya, saat itu hati dan pikiran saya sungguh-sungguh minta sama Allah, percaya 100% kalau Allah bakal kasih, dan benar saja, banyak doa saya yang terkabul, eh sepertinya hampir semua, alhamdulillah.

2.
Setelah beranjak dewasa, saya menemukan ayat favorit saya, ibrahim : 7, isinya "jika kamu bersyukur maka akan aku tambahkan nikmatnya", ayat ini sangat berarti bagi saya, apalagi salah satu guru ngaji terbaik saya pernah bilang, "rumus orang-orang itu salah, mestinya bukan berdoa-dapat-bersyukur, tapi bersyukur dulu, doa, baru deh dapat, dan begitu seterusnya", dan setelah mengetahui hal ini, saya selalu berusaha bersyukur dulu baru berdoa, contohnya kayak apa sih? begini.. waktu itu saya mau ujian kedokteran (sebut saja sooca namanya, ujian yang cukup berat di fk), saya berdoa begini sama Allah "yaa Allah terimakasih ya engkau telah mempermudah hamba belajar ttg A, sekarang hamba sudah paham tentang A, bantu hamba belajar lebih banyak lagi, dan berikan hamba kelancaran untuk ujian ini, berikan yang terbaik yaaAllah."
atau doa-doa rutin, "yaa Allah terimakasih atas hidayahMu selama ini, anugrahkanlah terus hidayahMu hingga hamba sampai di surgaMu yaa Allah", jadi syukuri dulu yang sudah Allah berikan, baru berdoa :)

3.
Dulu saya pernah berpikir, kalau ada dua orang minta sesuatu pada kita, yang satu meminta tanpa alasan yang jelas, yang satu disertai dengan alasan yang jelas, baik dan kuat, mana yang kita pilih? pasti yang kedua kan? Contoh lain seperti proposal sponsor, jika benefit yang ditawarkan jelas dan sesuai dengan perusahaan tersebut, pasti mudah diterimanya kan? Nah, sama halnya dengan doa sama Allah, baiknya setiap doa, keinginan, atau niat baik kita, diselipkan alasan yang baik dan kuat. contohnya, ketika saya akan ikut olimpiade astronomi, saya minta pada Allah seperti ini "yaa Allah, saya berhijab, penampilan saya berbeda dengan yang lain, penampilan saya ini mau tidak mau akan menjadi representasi seorang muslimah, maka berilah yang terbaik untuk osn ini yaa Allah, berikanlah kemenangan pada kami, supaya orang-orang menyadari bahwa muslimah juga bisa berprestasi, bahwa yang berusaha dekat denganMu akan diberikan kebaikan yaa Allah" ataupun ketika saya sedang mendaftar untuk ikut program student exchange, "yaa Allah berikan kesempatan pada hamba untuk menapaki bagian bumiMu yang lain, supaya hamba bisa mengetahui dan lebih banyak bersyukur dengan hidayah dan rahmatMu yaa Allah, dan di al quran pun engkau menyuruh kami untuk melakukan perjalanan, mengenal berbagai macam manusia yang kau ciptakan, maka bukakanlah jalannya yaa Allah" (fyi, dulu saya ingin sekali ke luar negeri, ayat-ayat andalan saya untuk ini adalah: QS Al Mulk: 15, QS Al Hujurat :13, dll)

4.
Setiap ingin mendapat kebaikan atas sesuatu hal, doakan juga temanmu. Ini kunci berdoa lainnya: doakan orang lain, entah itu keluarga kita, teman, sahabat maupun orang-orang baik disekitar kita ataupun orang-orang yang secara tidak langsung kita temui dalam kehidupan ini. Mendoakan orang lain adalah cara kita minta didoakan oleh malaikat, yang kemungkinan dikabulkannya jauh lebih tinggi, contohnya, misal saat akan ujian, ketika hendak mendoakan kelancaran ujianmu, dahulukan mendoakan teman dan sahabatmu, sebutkan namanya, ini menunjukkan kamu sungguh-sungguh mendoakan mereka, dan insyaAllah malaikat akan mengaminkan doa baik tersebut untukmu juga.

5.
Berdoalah dengan pasrah. Berdoalah dengan penuh kerendahan hati, hilangkanlah semua kesombongan dengan tidak menganggap usaha yang kita lakukan sudah lebih dari cukup, sandarkanlah semua pertolongan hanya pada Allah. dan iringi dengan istigfar. Seperti saat ujian datang, kita dianjurkan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk merubah kondisi kita menjadi lebih baik sebagai bentuk pembuktian atas kesabaran kita, tapi tetaplah rendah hati pada Allah, rasakanlah bahwa Allah lah pemegang segala keputusan dan takdir, maka rasa pasrah itu akan ada dalam doa.


Yang terakhir, jangan lupa, berdoalah lebih banyak untuk kebaikan akhiratmu, karena dunia itu tidak berharga sama sekali, apalagi jika dibandingkan dengan akhirat. Rutinlah berdoa untuk dikaruniai akhlak yang baik, hari-hari yang berkah. Berdoalah untuk hari terakhirmu, untuk kematianmu, untuk kehidupanmu di alam kubur, di hari kiamat, padang mahsyar, dan di hari perhitungan nanti.

Semoga amal baik menyertai kematian kita,



Hati perindu surga

Selasa, 06 Juni 2017

Life is a journey, from Allah to Allah

"Life is a journey, from Allah, to Allah"


Masuk islam di tahun 2010, saat usianya menginjak 16 tahun. Sebelumnya dia tidak memiliki keyakinan apa-apa, dia bilang "may be buddhist, but i don't know". Saat remaja tertarik untuk ikut komunitas buddha, walaupun merasa cukup nyaman, dia memutuskan untuk berpindah ke komunitas gereja (katolik) dengan alasan tidak ada teman sebaya di komunitas tersebut, hanya ada orang-orang tua. Lalu menjadi katolik dan memiliki nama baptis "Justin". Belajar injil selama 2 tahun, dan sempat pindah ke kristen protestan. Setelah beberapa waktu merasa ada yang ganjil dengan pemikiran katolik dan kristen (injil), dia berniat mencari keyakinan lain, mulailah ia belajar agama yahudi dan islam. Awalnya dia berniat masuk ke agama yahudi, akan tetapi untuk bisa belajar lebih banyak dan masuk agama yahudi, dia diminta untuk datang ke Tokyo dan melanjutkan perjalanan langsung ke Israel. karena ongkos perjalanan cukup mahal, dia mengurungkan niatnya. Dia terus mencari informasi dan kebetulan dia sering berkomunikasi dengan orang-orang muslim yang dia anggap sangat baik-baik (via internet), mau meluangkan waktu-waktunya untuk diskusi keagaamaan, dan mau membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yg dia ajukan. Tak lama dari itu, pada ramadhan 2010, dia memutuskan untuk mengunjungi masjid di Kota Fukukoka (saat itu dia tinggal di Kota Kurume, jd dia mencari masjid terdekat). Sesampainya disana dia menyatakan keinginannya untuk mengetahui islam lebih jauh yang akhirnya disambut baik dan diajak untuk bersyahadat saat itu juga. Hingga saat ini dia menjadi orang termuda yang masuk islam di masjid fukuoka.

Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi alaa diinik, yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi alaa thaa'atik, yaa muqallibal quluun tsabbit qalbi alalliiman

You have a great life story, I hope I can be a part of its story ♥︎

With love,



Hati Perindu Surga

Rabu, 31 Mei 2017

Darimana keyakinan itu datang?


Dulu saya pernah berdoa, kelak jika ada seorang laki-laki baik datang, memiliki niat baik, terlihat usahanya, dan disaat yang sama saya juga bisa menerimanya atau bahkan saya suka padanya, saya tidak akan menolaknya. Dan akhirnya di tahun 2016, Allah datangkan orang itu, semua kriteria ada padanya, maka keyakinan itu datang.


Ada doa lain yang sering saya panjatkan semenjak SMP, bahkan saat itu sering sekali saya ucapkan dalam hati ketika sujud, "yaa Allah, jodohkanlah hamba dengan orang luar negeri, supaya silaturahimnya bisa lebih luas, supaya hamba bisa..." (dulu kalau doa harus pake alasan, supaya lbh besar kemungkinan Allah kabulkan. ini saya nggak terlalu ingat detil doanya hehe😅)

Dari dulu saya percaya sekali dengan kekuatan doa, walaupun saya tau, takdir jodoh sudah tertulis jauuuh lebih dulu sebelum kita dilahirkan, tapi entah kenapa saya yakin, doa bisa lebih kuat. Atau pernah juga terbesit saat itu ketika berdoa "kenapa ya saya tetap berdoa dengan yakin seperti ini? Apa jangan-jangan itu memang sudah ditakdirkan untuk saya?"

...

Walaupun saya merasa dia adalah jawaban dari doa (lama) saya, tidak begitu saja saya menerimanya*, ada beberapa faktor yang akhirnya membuat saya yakin menerimanya:


1.
Dia cukup rajin datang ke masjid. 
Fyi, sedikit sekali mualaf jepang yang datang lagi ke masjid setelah masuk islam. Hanya beberapa yang pemahamannya sudah cukup baik, rumah dekat dengan masjid, staf dan setau saya semuanya sudah berkeluarga atau sudah berumur (selengkapnya di post berikutnya). Ditambah jaraknya bisa dibilang tidak dekat, masjid dan tempat tinggalnya berjarak 50 km, harus ditempuh dengan kendaraan. Dulu saat pertama kenal, sekitar 6-7 tahun lalu, dia bilang untuk sekali berangkat, ongkosnya bisa mencapai 200rb rupiah. (Sekarang kalau mau berangkat pake shinkansen sih bisa nyampe 400-500rb :p)

2.
Aktif di masjid, ikut beberapa kegiatan masjid.
Di post sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa saya mengikuti beberapa 'page' masjid (di facebook), salah satunya masjid fukuoka, masjid yang paling sering dia datangi, beberapa kali saya lihat fotonya diposting, misalnya saat dia menjadi pembicara untuk sharing tentang islam dengan mahasiswa universitas dan siswa SMA, dan acara lainnya. Waktu itu, dia tergabung dalam kepanitiaan "muslim grave" pembangunan pemakaman muslim, dia sibuk sana-sini mencari tanah dll, dia juga aktif di perkumpulan muslim jepang saat itu, dan satu lagi dia sempat menjadi ketua perkumpulan muslim di kota kitakyushu, kota tempat ia belajar dan bekerja.

3.
Mau belajar islam
Setahu saya setiap minggunya saat itu dia "mentoring" dengan ustadz jepang dari Tokyo via skype, namanya Ust. Abu Hakeem Ahmad Maeno, saya pun pernah membuka twitter ustadz tersebut dan menemukan fotonya saat sedang islamic meeting via skype.
Cerita lain, sebelum menikah dia bercerita bahwa dia pernah ditunjuk untuk menjadi "the next" imam masjid di masjid Fukuoka (karena memang inginnya yang menjadi imam adalah muslim jepang sendiri, bukan orang asing), akan tetapi karena ilmunya belum mencukupi, dia diajukan untuk mendapat beasiswa belajar di universitas saudi (entah di madinah ataupun di riyadh), dia pernah bertemu langsung dengan guru besar (waktu itu dia nyebutnya profesor) universitas saudi yang datang ke Jepang dan mereka berharap dia bisa segera belajar disana. (Fyi, sampai sekarang belum ada kelanjutan informasi dari saudi, maka dari itu dia memutuskan untuk sementara tinggal dan bekerja di Indonesia). 

4.
Teman-temannya adalah orang baik.

5.
Saya kenal beberapa orang disekitarnya selama kurang lebih 6 tahun.
Pernah saya bilang bahwa saya memiliki teman-teman muslim jepang maupun istri-istri dari muslim jepang. Dari situ saya tau lingkungannya, bagaimana kehidupan disana secara umum, dan yang paling penting, saya melihat 'sedikit' bagaimana kehidupan muslimah indonesia yang menikah dengan laki-laki jepang.

6.
Saya sudah  meminta pendapat orang yang berpengalaman.
Sebelum menikah, saya membangun hubungan baik dengan salah satu muslimah indonesia yang bersuami laki-laki jepang, bahkan beliau adalah orang yang sering membantu orang untuk menikah. Beliau memberitahukan saya hal-hal yang harus dipertimbangkan baik-baik sebelum saya memutuskan menikahi 'orang asing' khususnya orang jepang. Kebetulan beliau juga kenal dengan suami saya.

7.
Karakter
Jujur, saya suka sekali dengan karakternya, dia sangat bertanggung jawab, jujur, disiplin, bersih, rapi, mandiri, humoris, menyenangkan, dll. Pokoknya sangat bisa diandalkan dan sangat cerdas.
(Tentunya semua orang punya kekurangan, tapi insha Allah saya akan terus belajar untuk memahami dan menerimanya. Aamiin)

8.
Pengalaman hidup
Beberapa orang yang mengenalnya sering mengatakan "you are 20 but you can think like 40". Saya pikir itu karena dia memang cerdas dan pengalaman hidupnya sudah cukup banyak. Mulai usia 13-14 tahun mencari kepercayaan, sejak usia 18 tahun, merantau ke negeri orang (dia pernah kuliah di universitas al azhar kairo selama 1,5-2 thn), hidup mandiri tanpa dibiayai keluarganya, mencari uang sendiri, memasak, mencuci, merapikan apartemen, dan banyak hal lainnya yang harus dilakukan sendiri. Dia juga sudah berkunjung ke beberapa negara diusia 20 tahun, memilki teman dari berbagai negara maupun agama, juga punya pengalaman kerja di bidang yang berbeda-beda (selengkapnya di post berikutnya ya).

9.
Berkeinginan untuk memiliki keluarga muslim
Seluruh keluarganya masih nonis (semoga Allah berikan hidayah), dari dulu saat pertama masuk islam, dia selalu ingin segera menikah dengan alasan ingin memiliki 'keluarga muslim'. Dia ingin punya ayah muslim, ibu muslim, intinya keluarga yang muslim juga. Apalagi saat idul fitri atau acara-acara besar di masjid, hampir semua muslim yang datang, terutama muslim jepang, datang bersama keluarganya (makanya dia kadang sedih harus sendiri terus :p).

10.
He choose me
(๑>◡<๑)

*P.S karena pernah ada juga orang 'luar' yang mengajak saya menikah, laki-laki turki, tp ada hal-hal yang saya tidak bisa terima darinya
**saya tahu semua dari cerita pengalaman hidupnya, dan dari orang-orang sekitarnya


Hope Allah always bless us,




Hati perindu surga

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita pertemuan




"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu." Tere Liye


Kira-kira 7 tahun lalu, saya senang sekali mancari teman dan sahabat, entah di sekolah, organisasi, ataupun dengan cara lain, blog dan komunitas. 

Banyak kisah menarik (menurut saya) dalam pencarian teman ini, tapi ada satu yang sangat spesial bagi saya: pertemuan dengannya.

...

Waktu itu, kira-kira usia saya 15 tahun, saat itu saya baru hijrah, disaat yang sama saya senang sekali dengan petualangan, luar negeri, dan menjalin pertemanan. Saya memutuskan untuk mencari teman-teman pena muslim dari berbagai negara, caranya bukan dari website chat mancanegara ataupun web dating karena saat itu memang tidak ada niat mencari jodoh (masih baru masuk SMA juga hehe), saya menemukan cara lain yaitu dari komunitas fanpage dan group di facebook. Awal mula dari "muslim in france" "muslim in japan", dll, sampai komunitas masjid di beberapa kota, dulu saya lebih fokus ke masjid-masjid jepang, alasannya klasik, waktu itu saya lagi "freak" dengan jepang, mulai dari budayanya, teknologinya, kota-kotanya, katakter manusia-manusianya, juga animenya (tapi saya bukan otaku ya hehe). 

Nah dari situ saya dapat banyak teman, (karena kalau sudah add satu orang, susah untuk nggak ngeadd teman-temannya hehe). Beberapa bisa saya "tonton" hidupnya dari foto-foto yang di posting komunitas masjid tersebut. Bahagia sekali waktu itu, melihat muslim di negara minoritas. 
Tapi mereka semua beda jauh usianya dengan saya, sebut saja, mereka adalah para istri dan ibu-ibu. Dan banyak juga muslimah indonesia yang saya kenal dari sana karena mereka menikah dengan laki-laki jepang.

Beberapa kali saya mencoba membangun pertemanan, tapi ya kadang cuma sampai berbalas salam dan perkenalan diri. Beruntungnya ada satu perempuan jepang yang sungguh baik hati menyambut semua pertanyaan saya dan ramah sekali. Maryam san, begitu saya memanggilnya, muslimah jepang yang menikah dengan laki-laki berkebangsaan pakistan, usianya lebih tua dari ibu saya, dan layaknya ibu, dia selalu menanyakan kabar saya, menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya (kalau baca lagi history chatnya, rasanya malu banget, saking banyaknya pertanyaan bodoh haha), mengajarkan saya beberapa bahasa jepang, dan satu lagi: berusaha mencarikan teman sebaya untuk saya. Dia selalu bilang dia terlalu tua untuk jadi teman bagi saya dan berjanji mencarikan teman muslim/ah untuk saya. Suatu hari dia mengenalkan saya pada seseorang, seorang mualaf muda dari Fukuoka, nama akunnya Sho Ali M-ahmad Kinoshita, sungguh aneh menurut saya waktu itu, karena url fb page nya menggunakan nama "justin" dan usianya baru 16 tahun. Tapi saya tetap coba berteman dengannya. (Fyi, dari dulu english saya bisa dibilang dibawah standar, google translate selalu jadi andalan saya hehe). 

Awal-awal perbincangan kami, saya selalu memastikan apakah dia benar muslim atau tidak, sampai akhirnya saya dapat teman baru, namanya mbak yukie, dia muslimah jepang yang menikah dengan laki-laki jawa, bahasa indonesia dan bahasa jawanya lancar sekali, dia bilang bahwa dia punya tetangga muslim di rumah (jepang)nya, muslim termuda di masjidnya, namanya kinoshita san. Entah darimana saya juga kenal dengan orang indonesia yang sedang studi banding di masjid yang sama dengan Sho kun (dulu saya panggil dia dengan panggilan ini) . Dulu saya minta dia untuk mengecek apakah ada muslim bernama sho kinoshita (saya masih nggak yakin karena dia terlalu muda menjadi mualaf dan entah kenapa waktu itu saya kritis sekali haha), dan teman saya itu bilang, dia kenal dan saya minta dia sampaikan salam ke sho kun. Dari situ saya benar-benar yakin, kami sering bertanya kabar tentang sekolah, kehidupannya sebagai mualaf muda di negara minoritas islam, bagaimana dia ke masjid, makan, dll. Dulu saya sangat kagum dengannya, dan senangnya dia juga bilang senang berteman dengan saya. 

Tapi tiba-tiba ada suatu hal (yang tidak bisa saya ceritakan disini), yang membuat kami harus berhenti berteman, kami memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi, sama sekali, bahkan saling menghilang. Waktu itu saya cukup sedih, dan maryam san tidak pernah alpa menyemangati saya dan mencarikan saya teman baru. 

Cerita berlanjut sekitar 1 tahun lalu, setelah 6 tahun sejak kejadian tersebut, tiba-tiba, di beranda fb saya muncul nama "Ali Kinoshita", (sepertinya suggest friend dari teman-teman jepang saya), nama yang sangat tidak asing dengan wajah yang pernah saya lihat, saya memberanikan diri mengirim request friend dan saya menanyakan "Hello, I'm janan from Indonesia, are you Sho Kinoshita, a friend that i know 5-6 years ago?" and he said "Yes, it's me". (I really never expect this, so shocked and excited at the same time!)
J: "How is your life" 
S: "Alhamdulillah, how about you?"
J: "How about your wife?" (I thought he got married already, karena dia selalu memimpikan untuk menikah muda dan punya keluarga muslim spt muslim-muslim normal lainnya)
S: I didn't get married yet, how about you?
J: Me too
S: Cool! Alhamdulillah.
J: Hahahaha
Dan percakapan berlajut dengan nostalgia 6 tahun lalu, dan 2 hari semenjak kami bertanya kabar, dia mengajak saya menikah. Awalnya saya penuh kebingungan, tapi terlalu banyak hal lain yang menguatkan (mungkin akan saya jelaskan dipost berikutnya), akhirnya saya berbicara dengan orangtua saya, karena dia selalu memaksa kapan dia boleh datang temui orangtua saya di indonesia. Akhirnya, September 2016, pertemuannya dengan keluarga saya yang pertama. Dia selalu wanti-wanti pada saya, kalau saya tidak suka padanya ketika pertemuan ini, jangan memaksakan untuk menerimanya. Tapi waktu itu saya benar-benar tidak ada alasan untuk menolaknya, perjalanan yang ditempuhnya tidaklah mudah, waktu yang dia luangkan untuk datang berhari-hari ke indonesia, dan hal-hal lain membuat saya terlalu luluh.

Sayangnya semuanya tidak semudah membalikkan tangan, orangtua saya sulit untuk menerimanya, karena dia "orang asing", perlu waktu hampir setengah tahun untuk membuat orangtua saya menjawab "ya" dan setuju untuk menikahkan saya dengannya. (Orangtua saya mencari tahu sendiri tentangnya dengan cara mereka, alhamdulillah they got good news about him there :))

Pertemuan berikutnya di Februari 2017 sebagai penerimaan lamarannya, kali ini perjuangannya lebih besar lagi (saya tidak bisa ceritakan secara detil, intinya ayah ibu saya pun bisa melihat perjuangannya). Berikutnya dia kembali datang untuk mengurus berkas-berkas di kedutaan jepang di Jakarta. Dia kembali menunjukkan pengorbanannya untuk pernikahan kami. Alhamdulillah.

Akhirnya, 14 Mei 2017, dia berhasil memulai kisah cinta kami, dengan mengucap akad didepan ayah saya dan tentunya dihadapan Allah dan malaikat-malaikatNya. Alhamdulillah, meskipun perjalanan dan perjuangan ini tidak mudah, sungguh butuh kesabaran, but now he can say, "janan istriku" ♥︎

*Tambahan: Kami selalu ingin berterima kasih pada maryam san, seseorang yang membantu mempertemukan kami, tapi sayangnya akunnya sudah tidak aktif sejak beberapa tahun lalu, semoga Allah selalu berkahi hidupnya dan keluarganya. Aamiin



Yang selalu menanti berkah,






Hati perindu surga